(KATAKAMI.COM) --- BANK Indonesia (BI) telah
mempersiapkan langkah-langkah antisipatif terhadap potensi memburuknya
krisis Eropa dan pemilu Yunani terhadap perekonomian Indonesia. Di
antara langkah itu ialah meningkatkan pasokan valuta asing (valas) di
pasar domestik.
"Kita akan meningkatkan pasokan valas di pasar sesuai dengan
kebutuhan sebagai bagian untuk stabilisasi nilai tukar rupiah," ujar
Gubernur BI Darmin Nasution dalam siaran persnya, kemarin.
Di samping itu, BI juga akan melanjutkan langkah-langkah stabilisasi
nilai tukar rupiah, termasuk pembelian surat berharga negara (SBN) di
pasar sekunder, penerbitan term deposit valas, dan pengembangan
instrumen transaksi valas di dalam negeri lainnya.
"BI menilai dampak langsung krisis Eropa terhadap korporasi maupun
perbankan Indonesia sejauh ini relatif terbatas," jelas Darmin.
Hal tersebut, katanya, terlihat pada posisi utang luar negeri swasta
Indonesia dari Eropa yang per April 2012 tercatat US$21,6 miliar. Dari
utang itu sebagian besar dari Belanda (57,3%), Inggris (10,7%), Jerman
(6,4%), dan Prancis (2,5%).
Menurut Darmin, cadangan devisa per 31 Mei 2012 mencapai US$111,5
miliar. Itu cukup untuk memenuhi 6,2 bulan impor dan pembayaran utang
luar negeri pemerintah. "Sejauh ini kondisi kecukupan likuiditas, baik
valas maupun rupiah, tetap terjaga," tegasnya.
Sejauh ini dampak memburuknya krisis Eropa terutama dirasakan pada
tekanan di pasar valas dan pasar keuangan. Intensitas tekanan meningkat
sejak awal Mei. Hal itu tecermin dari pelemahan nilai tukar dan turunnya
indeks bursa saham di kawasan Asia (lihat grafik).
Direktur Eksekutif Departemen Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI
Perry Warjiyo memprediksi fluktuasi nilai masih akan terjadi selama
kondisi perekonomian Eropa yang masih tidak menentu.
Siapkan amunisi
Perry juga mengungkapkan bahwa bank sentral di seluruh dunia
memantau apa yang terjadi di Eropa, termasuk pemilu Yunani (17/6).
"Pasar sudah tahu akan ada risiko akibat kemungkinan pemerintah Yunani
kurang mendapat dukungan dari dalam negeri," ujarnya.
Terkait dengan hal itu, menurut pejabat senior di pemerintahan AS,
bank sentral di sejumlah negara maju telah menyiapkan amunisi. "Sejumlah
bank sentral mempersiapkan langkah koordinasi untuk menyuplai
likuiditas," ujar pejabat tersebut.
Hal yang sama juga disampaikan sejumlah pejabat negara maju yang
menghadiri pertemuan G-20 di Los Cabos, Meksiko. Bahkan, eskalasi krisis
Eropa itu diperkirakan menjadi isu utama pertemuan tersebut.
Secara terpisah, Presiden Bank Sentral Eropa (European Central
Bank/ECB) Mario Draghi mengatakan pihaknya siap masuk pasar dan men-
support perbankan zona euro yang bermasalah.
Pada bagian lain, pengamat ekonomi Prasetyantoko menyatakan
Indonesia sebagai negara berkembang biasanya berperan sebagai tempat
singgah modal negara-negara maju di kala krisis. Namun, ia mengingatkan
Indonesia harus hati-hati terhadap hal itu. (*)
SUMBER : MEDIA INDONESIA ONLINE