BlackBerry Ota, BlackBerry Offline, BlackBerry AppWorld, BlackBerry Tools, BlackBerry Repository Apps, Font CJK, Font Cod

BlackBerry Ota, BlackBerry Offline, BlackBerry AppWorld, BlackBerry Tools, BlackBerry Repository Apps, Font CJK, Font Cod


Saling Berjarak Tapi Saling Membutuhkan Antara Putin, Obama dan Netanyahu

Vladimir Putin   ( Foto : AFP / MARTIN BUREAU  )

 

Jakarta, 24 Juni 2012 (KATAKAMI.COM)  —  Tiga pemimpin dunia ini yaitu Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, cukup menarik untuk disimak dalam menjalin relasi G to G atau Government to Government.

Antara Rusia dan Amerika seakan terbentang jurang yang cukup dalam untuk isu-isu tertentu.

Antara Rusia dan Israel seakan tak ada masalah yang cukup serius (seserius antara beberapa pandangan antara Rusia dan Amerika) tetapi posisi Rusia sebagai salah satu pilar kuat dalam kelompok Kwartet Timur Tengah membuat peranannya sangat strategis dalam penyelesaian masalah perundingan damai antara Israel dan Palestina.

Antara Israel dan Amerika terlihat sangat jelas oleh mata dunia sebagai sekutu kuat tetapi dalam beberapa kesempatan Perdana Menteri Benjamin “Bibi” Netanyahu menunjukkan ketidak-sepahamannya dengan Barack Obama.

Kadang Netanyahu memuji Obama. Tetapi kadang ia “menghantam” Obama dengan caranya tersendiri.

Walau Israel berulang kali menyatakan akan selalu mendukung kebijakan Amerika Serikat terhadap Iran tetapi Netanyahu secara terang-terangan pernah mengilustrasikan cara Obama menangani masalah Iran dengan sebutan “Teori Bebek”.

Bibi memakai ilustrasi “Bebek” karena menurutnya Amerika terkesan enggan menjatuhkan kebijakan yang sangat keras yaitu menyerang Iran untuk menghentikan ambisi nuklir Teheran.

 

Presiden Rusia Vladimir Putin saat bertemu dengan Presiden Amerika Serikat Barack Obama di forum KTT G20 di Los Cabos, Mexico ( Foto : AFP)

 

Vladimir Putin yang terpilih kembali menjadi Presiden Rusia punya gaya sendiri untuk menunjukkan keengganannya bertemu dengan Barack Obama yaitu menolak hadir dalam pertemuan KTT NATO di Camp David bulan April lalu.

Putin mengutus tangan kanan yang dipercayainya yaitu Dmitry Medvedev untuk datang ke KTT NATO yang menempatkan Amerika Serikat sebagai tuan rumah.

Tetapi akhirnya Putin tak dapat mengelak lagi untuk bertemu Obama sebab forum KTT G20 yang digelar di Los Cabos, Mexico, mempertemukan kedua presiden dari negara-negara yang sama-sama “super power” ini.

Senin 18 Juni lalu, Putin dan delegasi Rusia bertemu dengan delegasi Amerika Serikat yang dipimpin langsung oleh Obama.

Namanya politisi saat bertemu, keduanya bisa saling tersenyum akrab.

Tapi ada hal yang membedakan posisi Amerika dan Israel dalam urusan hubungan bilateralnya dengan Rusia di era kepemimpinan Putin kali ini sebagai Presiden.

Putin hanya bersedia bertemu Obama di forum KTT G20.

 

Vladimir Putin, kiri, berjalan bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu saat berkunjung ke Moscow, 24 Maret 2011

 

Tetapi Putin memutuskan untuk mengadakan kunjungan kenegaraan ke Israel dan Palestina pekan depan. Sehingga terbuka kemungkinan, Putin akan bertemu dengan Benjamin Netanyahu sebagai Perdana Menteri Yahudi.

Dari awal rencana kunjungannya, Kremlin sudah mengumumkan bahwa Putin berencana untuk berkunjung juga ke Betlehem yang berada didalam otoritas wilayah Palestina.

Terlihat bahwa Rusia ingin menunjukkan keseimbangan yang sangat kuat dalam menyikapi permasalahan perundingan damai antara Israel dan Palestina.

Tetapi fakta bahwa Putin memutuskan untuk mengunjungi Israel di awal kepemimpinannya saat ini sebagai presiden, membuat Israel sedikit lebih dimenangkan oleh Rusia dibanding Amerika.

Walau Rusia tahu bahwa Amerika dan Israel adalah sekutu utama yang sangat tak terpisahkan, tetapi tampaknya Putin dapat merasakan bahwa hubungan yang agak dingin antara Obama dan Netanyahu secara pribadi.

Tetapi, yang perlu dicermati saat ini adalah bagaimana Rusia memainkan peranan mereka secara positif dalam isu-isu internasional saat ini.

Masalah Suriah (Syria), perundingan damai antara Israel dan Palestina, serta krisis nuklir di dua negara yaitu di Iran dan Korea Utara.

Untuk masalah Suriah, jelas, Israel selalu ada bersama Amerika.

 

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Amerika Serikat Barack Obama

 

Posisi Israel dan Amerika dalam menyikapi masalah Suriah ibarat anak kembar siam alias sama !

Sementara Rusia, menentang keras setiap bentuk intervensi asing (terutama intervensi militer asing) dalam menyelesaikan krisis politik dan keamanan di Suriah yang sudah sangat berkepanjangan.

Keberadaan Rusia dan China yang mengambil sikap yang sama dalam menyikapi masalah Suriah, membuat komunitas internasional yang bisa berbuat apa-apa untuk mendorong percepatan pemulihan keadaaan.

Kesamaan sikap Israel dan Amerika, terlihat juga dalam menyikapi krisis nuklir Iran.

Walau tak sekeras Israel, Amerika menentang ambisi nuklir Iran dan lebih memilih untuk mematikan ambisi nuklir Iran dengan cara menjatuhkan berbagai sanksi ekonomi yang dampaknya sangat mengerikan bagi Iran.

Sementara Rusia, kembali menunjukkan perbedaan sikap dalam hal krisis nuklir Iran.

Menurut Rusia, Iran punya hak untuk mengembangkan kemampuan nuklir mereka asal untuk kepentingan damai.

Begitu juga halnya dengan krisis nuklir di Korea Utara, Rusia tidak menunjukkan sikap yang sangat berseberangan (apalagi sampai menghamtam Pyongyang) lewat sanksi atau embargo apapun.

Lain lagi untuk hubungan antara Obama dan Israel.

Suka atau tidak suka, fakta menunjukkan bahwa sepanjang kepemimpinannya Obama sebagai Presiden Amerika Serikat, bantuan untuk Israel (terutama untuk masalah pertahanan dan keamanan mereka) cukup luar biasa angkanya.

 

Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan Deputi Perdana Menteri Israel, Shaul Mofaz

 

Mau seperti apapun spekulasi yang disebutkan di media tentang hubungan yang dingin antara Obama dan Netanyahu, fakta juga menunjukkan bahwa atas perintah Obama jugalah Duta Besar Amerika Serikat di Dewan Keamanan PBB (Susan Rice) mengangkat tangan saat diambil voting untuk permasalahan Israel.

Amerika menggunakan hak veto mereka untuk menyelamatkan Israel.

Mau sekeras apapun berbagai pernyataan Amerika menentang pemukiman perumahan Yahudi, fakta menunjukkan bahwa Obama tetap punya respek pada kesepakatan koalisi pemerintahan yang diambil Netanyahu.

Kamis 21 Juni lalu, secara tiba-tiba Obama memasuki ruang pertemuan di Gedung Pertemuan saat penasehat keamanannya menggelar pertemuan dengan Deputi Perdana Menteri Israel, Shaul Mofaz, yang diundang datang untuk berbicara di Amerika.

Kehadiran Obama yang sangat tiba-tiba selama setengah jam digunakannya untuk menyampaikan bahwa ia sebagai Presiden Amerika menghargai keputusan Partai Likud dan Partai Kadima untuk berkoalisi.

Dan Obama berharap koalisi itu akan dapat mempercepat perundingan damai antara Israel dan Palestina.

Obama yang terkesan sulit untuk dipertemukan kembali dengan Netanyahu, justru mendatangi utusan yang dikirim Netanyahu ke Gedung Putih yaitu wakilnya di pemerintahan.

 

Foto kombinasi : Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Amerika Serikat Barack Obama

 

Jadi, antara Putin, Obama dan Netanyahu, ada sebuah fenomena yang sangat menarik bahwa ketiganya seakan saling membuat jarak.

Padahal dalam posisi mereka masing-masing di pemerintahan, ketiganya tak akan bisa menyangkal bahwa sesungguhnya negara mereka saling membutuhkan antara satu dengan yang lainnya.

Putin yang enggan bertemu Obama dan memutuskan untuk melakukan kunjungan kenegaraan ke Israel.

Obama yang sulit dipertemukan dengan Netanyahu tetapi ternyata memberikan kejutan manis dengan cara menemui Wakil Perdana Menteri Israel saat menggelar pembicaraan dengan penasehat keamanan Obama di Gedung Putih.

Semua ini bisa diartikan bahwa ketiga pemimpin ini sesungguhnya sama-sama punya power yang sangat besar dalam kapastitas mereka masing-masing di pemerintahan negara mereka.

Di pemerintahan dan di politik, ketiganya sama-sama punya pengaruh dan massa pendukung.

Walau hubungan individu dari ketiganya tak semanis madu kedekatannya tetapi ketiga pemimpin ini harus diingatkan bahwa sesungguhnya mereka dapat lebih mempererat relasi dan meningkatkan kerjasama untuk kepentingan dunia secara keseluruhan.

Sesungguhnya, mereka saling membutuhkan.

Sesungguhnya, mereka dapat bekerjasama jauh lebih baik untuk kepentingan dunia dan kemanusiaan.

Ada baiknya juga diplomasi olahraga diterapkan Putin dalam memulihkan hubungannya dengan Obama.

Seperti saat Putin bermain hockey di atas es bersama Presiden Finlandia Sauli Niinisto hari Jumat (22/6/2012) lalu di Resot Igora, dekat St. Petersburg.

Barangkali kalau Putin bisa bermain basket dan golf (dua olahraga yang dikuasai Obama), keduanya bisa berolahraga bersama sambil membahas berbagai permasalahan dunia yang sering menempatkan Rusia dan Amerika di tempat yang saling berseberangan.

Jadi kesimpulannya, ketiga pemimpin dunia ini yaitu Putin, Obama dan Netanyahu diharapkan untuk terus menghormati dan melakukan segala yang terbaik untuk menghormati prinsip-prinsip perdamaian dan keamanan di dunia.

Rusia, Amerika dan Israel diharapkan membawa langkah-langkah dan kebijakan mereka ke arah yang sangat positif agar dunia dapat merasakan dampak yang sangat baik dari “power” mereka masing-masing dalam hal perdamaian dan keamanan dunia.

 

 

(MS)

<< kembali