|
|
Mengenang Entebbe Mossad Dituding, Penyesalan Bashar Al Assad Tak Nyaring
Inilah foto yang sangat penting saat mengabadikan para sandera Pesawat Air France yang disandera teroris Palestina berhasil diselamatkan dan turun dari pesawat Hercules pada tanggal 4 Juli 1976. Operasi penyelamatan sandera yang dilakukan Pasukan Komando SAYERET MATKAL ini dikenal dengan nama Operasi Entebbe dan menewaskan satu orang perwira terbaik IDF bernama Letnan Kolonel Yoni Netanyahu, yang merupakan saudara tertua dari Perdana Menteri Israel saat ini, Benjamin Netanyahu
Dimuat juga di Blog INDONESIAKATAKAMI.WORDPRESS.COM Bashar Al Assad Berlindung Dibalik Putin Power Versus Obama Power
Jakarta, 3 Juli 2012 (KATAKAMI.COM) — Tepat pada peringatan Hari Kemerdekaan Amerika tanggal 4 Juli, ada sebuah peringatan yang akan selalu diingat oleh Israel yaitu OPERASI ENTEBBE. Operasi Entebbe adalah operasi yang sangat legendaris dari militer Israel dimana mereka berhasil melakukan penyelamatan sandera saat pesawat Air France dibajak tahun 1976. Bandara Entebbe di Uganda merupakan tempat operasi penyelamatan sandera oleh Pasukan Khusus Israel Sayeret Matkal saat pesawat Air France flight139 dengan rute Perancis ke Tel Aviv dibajak oleh teroris Palestina. Misi penyelamatan yang dilakukan oleh Pasukan Khusus Sayeret Matkal ( salah satu unit terbaik yang dimiliki oleh Israel Defense Forces atau IDF ) difokuskan untuk membebaskan para sandera. Peristiwa ini berlangsung pada malam 3 Juli dan awal pagi 4 Juli 1976. Operasi telah dirancang secara rahasia dan dilakukan menentang negara Uganda, dimana pemimpinnya, Idi Amin mendukung pembajakan tersebut. Operasi Entebbe berhasil membebaskan 100 orang tawanan yang ada didalam pesawat Air France. Operasi Entebbe ini juga menewaskan ke-enam orang pembajak, tiga sandera dan 45 orang tentara Uganda. Dan satu-satunya tentara Israel yang tewas alam operasi itu adalah Letnan Kolonel Yoni Netanyahu, yang saat itu justru menjadi Komandan Penyelamatan dalam misi yang sepenting itu. Selain nama Yoni Netanyahu, sejumlah nama ikut berperan dalam keberhasilan operasi Entebbe yaitu Wakil Perdana Menteri (yang juga pimpinan Partai Kadima) Shaul Mofaz, Tamir Pardo (kini menduduki jabatan Direktur Dinas Rahasia Israel, Mossad), lalu Ehud Barak yang kini menduduki jabatan Menteri Pertahanan.
Hanya sepuluh hari menjelang peringatan operasi Entebbe, Dinas Rahasia Israel, MOSSAD, dituding berada di balik pembunuhan seorang anggota HAMAS.
MOSSAD saat ini dipimpin oleh Tamir Pardo, yang dulu merupakan salah seorang prajurit Israel yang ikut ditugaskan dalam Operasi Entebbe.
Saat Operasi Entebbe dilaksanakan oleh Pasukan Khusus Israel, Sayeret Matkal (salah satu unit terbaik yang dimiliki oleh Israel Defense Forces atau IDF), Tamir Pardo merupakan anak buah dari Letnan Kolonel Yoni Netanyahu dalam operasi tersebut.
Operasi Entebbe berhasil membebaskan 100 orang tawanan yang ada didalam pesawat Air France.
Dan satu-satunya tentara Israel yang tewas alam operasi itu adalah Letnan Kolonel Yoni Netanyahu, yang saat itu justru menjadi Komandan Penyelamatan dalam misi yang sepenting itu.
Itulah sebabnya, Yoni dianggap sebagai pahlawan dan namanya terus dikenang sampai saat ini.
Selain Yoni Netanyahu, operasi ini juga menewaskan ke-enam orang pembajak, tiga sandera dan 45 orang tentara Uganda.
Jadi disaat Boss Mossad bersiap bernostalgia saat ia ikut bertugas dalam sebuah operasi besar cukup membanggakan, institusi yang dipimpinnya dituding membunuh seorang anggota Hamas di Suriah.
Tetapi benarkah Mossad yang berada dibalik pembunuhan itu ?
Belum tentu.
Seperti yang diberitakan AFP (26/6/2012), Salah seorang anggota kelompok militan Hamas, Kamal Hussein Ghannaje, tewas terbunuh di pinggiran Kota Damaskus, Suriah, pada hari Rabu (27/6/2012).
Hamas pun menuding, badan intelijen Israel (Mossad), berada dibalik aksi pembunuhan ini.
Namun oposisi Suriah justru menuduh Presiden Bashar al Assad yang melakukan pembunuhan. “Sekelompok orang memasuki rumah Ghannaje di Qudsaya, di sanalah Ghannaje dibunuh.
Menurut informasi yang kami dapat, Mossad berada di balik insiden pembunuhan ini,” ujar salah seorang pejabat Hamas, seperti dikutip AFP, Kamis (28/6/2012).
Ghannaje adalah salah seorang deputi dari komandan militer Hamas Abdel Raouf Al-Mabhuh, yang ditemukan tewas di sebuah hotel di Dubai, Uni Emirat Arab pada 2010 lalu.
Sayap politik dari fraksi Hamas selama ini tinggal di Damaskus, Suriah. Mereka didukung oleh Pemerintah Suriah, karena Hamas adalah gerakan anti Israel.
Ghannaje adalah salah seorang deputi dari komandan militer Hamas Abdel Raouf Al-Mabhuh, yang ditemukan tewas di sebuah hotel di Dubai, Uni Emirat Arab pada 2010 lalu.
Sayap politik dari fraksi Hamas selama ini tinggal di Damaskus, Suriah. Mereka didukung oleh Pemerintah Suriah, karena Hamas adalah gerakan anti Israel.
Sementara itu, fraksi oposisi Suriah justru mengklaim, Presiden Bashar al Assad yang bertanggung jawab atas pembunuhan Ghannaje.
Terbunuhnya Kamal Hussein Ghannaje, harus menjadi sebuah pelajaran yang sangat berharga untuk HAMAS.
Khususnya yang saat ini menjadi pimpinan HAMAS, Khaled Meshaal.
Pelajaran berharga tersebut adalah HAMAS harus konsisten untuk keluar dari markas mereka selama ini di Suriah. Sebab, situasi politik dan keamanan di Suriah sudah semakin memburuk.
Sesungguhnya pimpinan HAMAS, Khaled Meshaal, sudah memutuskan agar HAMAS hengkang dari Suriah.
Tapi mengapa, masih ada yang tersisa ?
Lalu, jika ada anggota HAMAS yang terbunuh di luar negeri, apakah ada jaminan dan bukti kuat yang bisa dipakai untuk menuding wajah Mossad sebagai pelaku utama ?
Waspadailah kemungkinan pihak ketiga yang sengaja “memancing di air keruh”.
Suriah saat ini seakan menjadi lautan kefrustasian, tak cuma bagi rakyat Suriah, tetapi bagi komunitas internasional.
Memulihkan situasi politik dan keamanan di Suriah, seakan menjadi sesuatu yang sangat mustahil dilakukan pada saat ini.
Semua serba mengerikan.
Semua serba memprihatinkan.
Airmata, darah dan nyawa rakyat sipil Suriah seakan sudah tak ada artinya di tengah berkecamuknya perang yang tak berkesudahan di Suriah.
Hal yang paling bijaksana untuk dilakukan oleh HAMAS adalah keluar dari Suriah.
Menjauh dulu.
Kecuali, jika HAMAS memang ingin menjadi bagian dari kekisruhan di Suriah.
Dunia terus mengikuti perkembangan di Suriah, detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, dan hari demi hari.
Ketika Presiden Suriah Bashar Al Assad menyatakan penyesalan atas tertembaknya pesawat jet F4 milik Turki tanggal 22 Juni lalu (seperti yang disampaikan Presiden Assad dalam sebuah wawancara dengan media Turki), satu hal yang diabaikannya.
Presiden Assad tak menyatakan bahwa ia juga sungguh menyesal bahwa sebagai seorang pemimpin, ia telah GAGAL melindungi, menyelamatkan dan mengamankan seluruh rakyat Suriah.
Hidup sudah bukan lagi menjadi sebuah kehidupan yang layak untuk dijalani dan dihadapi dengan cinta dan damai, tetapi sudah berubah menjadi sebuah tragedi kemanusiaan yang sangat menyedihkan.
Dan situasi yang sangat menyedihkan di Suriah, mengingatkan pada sebuah lagu yang berjudul “FROM A DISTANCE”.
Setidaknya untuk mengingatkan Presiden Bashar Al Assad bahwa Tuhan terus melihat ke arah Suriah.
Terlebih lagi karena penyesalan Presiden Assad yang terus ingin berkuasa ini, terdengar tak sempurna dan sungguh tak nyaring ….
From a distance
The world looks blue and green And the snow capped mountains white From a distance The ocean meets the stream And the eagle takes to flight
From a distance
From a distance
God is watching us
From a distance
God is watching us
God is watching us
(MS)
|






