BlackBerry Ota, BlackBerry Offline, BlackBerry AppWorld, BlackBerry Tools, BlackBerry Repository Apps, Font CJK, Font Cod

BlackBerry Ota, BlackBerry Offline, BlackBerry AppWorld, BlackBerry Tools, BlackBerry Repository Apps, Font CJK, Font Cod


Dua Jempol Untuk Mursi Menjaga Netralitasnya Pada Isu Palestina

Presiden Mesir Muhammed Mursi

 

Dimuat juga di Blog INDONESIAKATAKAMI.WORDPRESS.COM 

Kemenangan Presiden Baru Mesir Muhammed Mursi Adalah Kemenangan Demokrasi

 

Jakarta, 19 Juli 2012 (KATAKAMI.COM)  — Pasca kemenangannya dengan perolehan suara 51,73% bulan Juni lalu sebagai Presiden Baru Mesir, Muhammed Mursi Isa al-Ayyat membuktikan ucapannya bahwa ia akan menjaga jarak yang sama dekat dan sama jauhnya dengan dua faksi yang berkuasa di Palestina, yaitu Fatah (yang dipimpin Mahmoud Abbas) dan Hamas (yang dipimpin Khaled Meshaal).

Media memperlihatkan betapa gembiranya pada pendukung kelompok militan Hamas di Jalur Gaza atau Iran, yang merupakan “sekutu terkuat” Ikhwanul Muslimin, organisasi yang dipimpin Mursi, saat Mursi dinyatakan sebagai PEMENANG dalam pemilu kepresidenan di Mesir.

Tapi ternyata Mursi bisa menempatkan dan membawakan dirinya dengan sangat baik sebagai kepala negara.

Mursi, yang sekarang memimpin Partai Keadilan, mendapatkan 51,73 persen dari seluruh suara di putaran kedua pemilihan suara, mengalahkan saingannya, mantan perdana menteri Ahmed Shafiq, yang meraih 48,27 persen suara.

Mursi (61) terpilih menjadi presiden Mesir, menggantikan Presiden Hosni Mubarak yang digulingkan dalam revolusi pada awal tahun lalu.

Mursi lahir dari keluarga sederhana di Desa Adwah, Provinsi Syarqiyah, Mesir, pada 20 Agustus 1951.

Doktor teknik lulusan Amerika Serikat itu mengetuai Partai Kebebasan dan Keadilan atau Hizbul Hurriyah Wal Adalah, sayap politik Ikhwanul Muslimin.

Sejak 1977 Mursi mulai aktif di Ikhwanul Muslimin dan berulang kali masuk penjara, baik di masa Presiden Anwar Saddat (1970-1981) maupun di era Presiden Hosni Mubarak (1981-2011) atas tuduhan melakukan gerakan bawah tanah untuk menggulingkan pemerintah.

Presiden Mesir Muhammed Mursi bertemu dengan Presiden Palestina Mahmoud Abbas, Rabu (18/7/2012) di Istana Kepresidenan Mesir, Kairo.

 

Presiden Mursi secara terpisah melakukan pertemuan di Kairo dengan Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, dan Kepala Biro Politik Hamas, Khaled Meshal.

“Setelah pertemuan dengan Presiden Abbas, Presiden Mursi juga bertemu pula dengan pimpinan faksi Hamas, Meshal, hari Kamis (19/7/2012),” kata juru bicara Presiden Mesir, Yasser Ali, di Kairo, usai pertemuan kedua Kepala Negara, Rabu (18/7/2012).

Menurut dia, pertemuan tersebut merupakan upaya mempersatukan barisan antara kedua faksi yang paling berpengaruh di Palestina tersebut, katanya.

Fatah pimpinan Presiden Abbas yang mengusai wilayah Tepi Barat Sungai Yordan, pecah kongsi dengan Gerakan Hamas yang mengusai Jalur Gaza sejak 2007 menyusul kemenangan Hamas dalam pemilu 2006.

“Agenda pertemuan terpisah antara Presiden Mursi dan kedua pimpinan faksi itu juga mencakup pembicaraan mengenai pembentukan pemerintah koalisi Palestina,” kata Yasser Ali.

Setelah pertemuan dengan Presiden Moursi, kedua pemimpin Palestina juga akan melakukan pertemuan bilateral untuk membicarakan pembentukan pemerintah koalisi tersebut.

Presiden Abbas yang didampingi Menteri Luar Negeri Palestina, Riyad Al Maliki dan Ketua Juru Runding Palestina, Saeb Ereikat, tiba di Kairo pada Selasa (17/7/2012) untuk kunjungan dua hari.

 

Kepala Biro Politik HAMAS, Khaled Meshaal, kiri, mengucapkan selamat kepada Muhammed Mursi yang memenangkan pemilihan umum parlemen, 21 Januari 2012

 

Lepas dari apapun agenda politik dari Fatah dan Hamas yang berencana untuk menggelar kembali pertemuan mereka untuk membahas kelanjutan rekonsiliasi dan persatuan (UNITY) mereka, langkah Presiden Mursi sungguh pantas dipuji.

Mursi tak ingin menunjukkan bahwa ia lebih dekat dengan Hamas.

Mursi membuktikan bahwa sebagai kepala negara, ia akan menjaga jarak yang sama dekat dan sama jauhnya dengan dua faksi paling berpengaruh di Palestina yaitu Fatah dan Hamas.

Keputusannya menerima pimpinan dari masing-masing faksi yaitu Mahmoud Abbas dan Khaled Meshaal (walau tidak bertemu dalam satu kesempatan), tetapi kebijakan Mursi cukup “cantik” secara politik.

Tetapi setelah ini, apalagi yang harus dilakukan Mursi ?

Mursi harus konsisten memberikan dukungan yang sangat kuat dan menunjukkan komitmen yang sangat tinggi untuk membantu Palestina secara keseluruhan.

Dukungan Mursi jangan dikotak-kotakkan, misalnya dukungan untuk Hamas harus lebih besar, atau dukungan untuk Fatah harus lebih kecil.

Sama, harus sama, dukungan Mursi untuk Palestina harus maksimal.

Tetapi, Mursi harus memastikan dulu, fondasinya di dalam negeri harus solid, kuat dan berdiri dengan kedua kaki yang menapak sangat mantap.

Ibarat orang yang hendak bertarung dalam sebuah pertarungan beladiri, ia petarung harus memastikan bahwa “kuda-kuda” atau kedua kakinya berdiri dengan sangat mantap agar tubuhnya tidak oleng, terjatuh, dan selanjutnya setiap tendangan bisa tepat mengenai sasaran.

 

Presiden Muhammed Mursi bertemu Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Salman, 11 Juli 2012

 

Mursi, tampaknya memang merupakan politisi yang sedang mengatur irama dan langkah-langkah politiknya dengan sangat baik.

Ia tidak memutuskan untuk memilih Iran sebagai negara pertama yang dikunjungi pasca kemenangannya sebagai Presiden Mesir yang baru.

Mursi memilih untuk berkunjung ke Kerajaan Arab Saudi sebagai negara pertama yang dikunjung sebagai Presiden terpilih.

Mursi bertemu dengan Raja Abdullah dan Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Salman pada pekan lalu, (11/7/2012).

Mursi membuat kejutan lainnya saat ia bersedia menerima kunjungan dari Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton yang datang berkunjung ke Kairo (14/7/2012).

Mursi menyambut delegasi Amerika dengan gembira dengan mengatakan, “Kami sangat sangat ingin untuk bertemu dengan anda dan senang anda ada disini.”

Dalam pertemuan itu, Hillary menyuarakan dukungan penuh untuk ‘transisi penuh’ ke pemerintahan sipil disaat para pendukung Mursi dalam kebuntuan politik dengan keberadaan para jenderal yang masih berkuasa sejak tergulingnya Husni Mubarak.

Tetapi ada harapan lainnya dari Hillary yang disampaikan pada Mursi yaitu agar Mursi dapat bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk membicarakan perjanjian damai Israel dan Mesir.

Sah-sah saja jika Hillary memasukkan kepentingan Israel dalam kunjungannya ke Kairo mengingat kedekatan Amerika dan Israel sebagai sekutu utama.

Tetapi, WASHINGTON tak perlu “memaksa” Mursi untuk bertemu dengan para pemimpin Israel, jika memang Mesir (dibawah kepemimpinan Mursi) menganggap “belum saatnya” membuka ruang dan waktu untuk bertemu dengan para pemimpin Israel.

Belum satu bulan Mursi berkuasa, biarkan dia menguatkan dulu fondasi pemerintahannya.

Beri Mursi waktu untuk menata dulu pemerintahannya sendiri …

Ia menang secara sangat demokratis sehingga tampuk kekuasaannya saat ini harus dihormati oleh semua pihak sebaga sebuah hasil demokrasi yang sangat membanggakan.

Termasuk oleh militer dan intelijen di Mesir sendiri, sudah saatnya mereka menunjukkan kepatuhan dan loyalitas tertinggi dan terbaik yang bisa mereka berikan kepada sang kepala negara.

Mursi sedang menjadi tokoh yang diamati oleh komunitas internasional.

Dan didalam negeri, Mursi menjadi pimpinan tertinggi yang diharapkan rakyat Mesir membawa perubahan ke arah yang sangat berbeda dari sebelumnya.

Entah apalagi, langkah-langkah cantik yang akan diambil Mursi untuk kebijakan politik luar negerinya.

Tapi apapun itu, dua jempol untuk Mursi dalam menempatkan dirinya untuk permasalahan Palestina !

Ia tak memihak pada satu faksi saja.

Ia berjanji akan menjaga jarak sama dengan pihak manapun di Palestina.

Tetapi, dukungan Mursi pada Palestina jangan hanya terbatas pada pertemuan-pertemuan yang penuh basa-basi di ruang tamu Istana Kepresidenannya.

Lakukan, lakukan lagi yang lebih nyata dan lebih baik, untuk membantu Palestina, tanpa harus mengumbar kebencian dan sikap anti Israel.

Kadang dalam politik, kebencian dan sikap anti, harus disembunyikan secara samar (walaupun hati merasa tak nyaman).

Kadang dalam politik, kebencian dan sikap anti harus diabaikan sejenak, demi keuntungan yang lebih besar untuk memperkuat posisi dan mengalirnya dukungan-dukungan yang terduga.

Itulah politik ….

 

 

 

(MS)

<< kembali