Para siswa membawa poster dan tulisan yang berisi keprihatinan terhadap etnis Rohingya di Myanmar (angling ap/detikcom)
Semarang (KATAKAMI.COM) --- Ratusan siswa SMP memadati sebuah masjid yang terletak di kompleks SMP Islam Terpadu Harapan Bunda, Semarang. Mereka melakukan salat gaib dan berdoa bersama untuk etnis Rohingya yang dibantai di Myanmar.
Sebelum salat, murid-murid SMPIT Harapan Bunda Semarang diminta menonto film dokumentasi yang menggambarkan aksi kekerasan di Myanmar. Perwakilan OSIS, Andiny Agustiningtyas mengaku miris setelah melihat cuplikan gambar pembantaian terhadap etnis Rohingya.
"Kasihan. Kita di sini memperoleh kedamaian yang hakiki untuk beribadah, tapi saudara muslim kita di sana yang merupakan minoritas justru dibantai," katanya di SMPIT Harapan Bunda, Jl Sunan Kalijaga, Semarang, Kamis (2/8/2012).
Sementara itu, Wakil Humas SMPIT Harapan Bunda, Joko Winarso mengatakan kegiatan yang dilakukan lebih dari 200 murid tersebut sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama muslim etnis Rohingya yang sanggup dilakukan oleh siswa SMP. Bentuk kepedulian itu juga di wujudkan dengan penggalangan dana.
"Ada penggalangan dana yang dikumpulkan dari warga sekolah, nanti dananya akan kita salurkan," pungkas Joko.
Dana yang berhasil dikumpulkan SMPIT Harapan Bunda hari ini mencapai sekitar Rp 3,8 juta. Nantinya akan langsung dikirimkan ke LSM Muslim, Aksi Cepat Tanggap Tragedi Rohingya.
Aksi peduli juga dilakukan puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Pemuda Islam (GPI) Semarang. Mereka melakukan long march sejak pukul 08.00 WIB dari Lapangan Pancasila, Kawasan Simpang Lima menuju gedung DPRD Jateng. Selama long march mereka menyanyikan lagu perjuangkan sambil mengangkat sejumlah poster bernada anti kekerasan.
"Kami menuntut agar perwakilan anggota DPRD menandatangani pernyataan sikap yang kami buat. Nantinya kami akan mengirim ke pemerintah pusat. Harapan kami nantinya diteruskan ke pemerintah Myanmar," ungkap koordinator lapangan GPI Semarang, Suudut Tasdiq.
Di depan Gedung DPRD Jateng, aksi teatrikal dilakukan oleh tujuh orang mahasiswa. Tiga orang diikat dengan tali dan empat lainnya beradegan sebagai algojo dengan senjata dari pelepah pisang. (*)
SUMBER : DETIK