BlackBerry Ota, BlackBerry Offline, BlackBerry AppWorld, BlackBerry Tools, BlackBerry Repository Apps, Font CJK, Font Cod

BlackBerry Ota, BlackBerry Offline, BlackBerry AppWorld, BlackBerry Tools, BlackBerry Repository Apps, Font CJK, Font Cod


Tragedi Sinai Bukan Wake Up Call Tapi Pressure Untuk Presiden Mesir

Presiden Mesir Muhammed Mursi memimpin pertemuan darurat dengan jajaran militer dan intelijennya, Minggu (5/8/2012), setelah tragedi penyerangan yang menewaskan sedikitnya 16 tentara Mesir

 

Dimuat juga di Blog INDONESIAKATAKAMI.WORDPRESS.COM 

Dua Jempol Untuk Mursi Menjaga Netralitasnya Pada Isu Palestina

Kemenangan Presiden Baru Mesir Muhammed Mursi Adalah Kemenangan Demokrasi

 

Jakarta, 6 Agustus 2012 (KATAKAMI.COM)  —  Hanya dua minggu sebelum hari ulang tahunnya yang ke 61, Presiden baru Mesir, Muhammed Mursi mendapat kejutan sekaligus pukulan yang sangat mengguncang hati, perasaan dan pikiran.

Bagaimana tidak ?

Seperti yang diberitakan KOMPAS.ONLINE (6/8/2012), orang-orang bersenjata membunuh 16 penjaga perbatasan Mesir dengan Israel di Sinai Utara sebelum mencuri dua kendaraan lapis baja dan masuk ke wilayah  Israel, Minggu (5/8/2012).

Seorang pejabat kesehatan Mesir mengatakan, orang-orang bersenjata itu mengenakan baju tradisional Badui datang dengan mengendarai dua kendaraan dan menembaki sebuah pos pemeriksaan dekat pelintasan perbatasan Karm Abu Salem.

Departemen Kesehatan menyatakan, 16 tentara dan penjaga perbatasan terbunuh, sementara seorang pejabat keamanan mengatakan, tujuh orang lainnya terluka.

Menurut kantor berita MENA, orang-orang bersenjata itu adalah “kaum jihad” di Jalur Gaza.

Stasiun televisi pemerintah dan MENA mengatakan, Mesir menutup pelintasan Rafah di Jalur Gaza “sampai pemberitahuan lebih lanjut”. Padahal, Rafah merupakan satu-satunya pelintasan antara Gaza dan dunia luar yang tidak dikuasai Israel.

Berbicara setelah pertemuan dengan para pejabat militer, menteri luar negeri, dan kepala intelijien, Presiden Mesir Mohamed Mursi bersumpah akan mengambil alih Sinai setelah serangan itu.

“Aparat akan mengambil alih sepenuhnya wilayah-wilayah itu,” kata Mursi dalam sebuah pernyataan yang disiarkan melalui televisi.

Mursi mengeluarkan “perintah jelas” bahwa Mesir harus “menguasai Sinai” setelah terjadi kekacauan menyusul jatuhnya Hosni Mubarak tahun lalu.

Mursi menyebut serangan itu sebagai tindakan “pengecut”. “Orang-orang yang bertanggung jawab atas kejahatan ini akan diburu dan ditangkap,” tegasnya.

“Setiap orang akan melihat bahwa militer dan polisi Mesir mampu menangkap penjahat-penjahat itu di mana pun mereka berada,” ujar Mursi, demikian dikutip dari KOMPAS ONLINE.

 

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, kanan, dan Menteri Pertahanan Israel Ehud Barak, Senin (6/8/2012), berdiri di samping reruntuhan sebuah kendaraan militer Mesir setelah militan mengendarainya melalui pagar keamanan ke Israel dari Mesir, di sebuah pangkalan militer Israel.

 

Berbicara dari negaranya, Senin (6/8/2012), Menteri Pertahanan Israel Ehud Barak menegaskan, serangan teror ke perbatasan Mesir-Israel adalah “wake up call” bagi Mesir.

Tak hanya itu, Barak juga mendesak Mesir agar segera menyelesaikan isu keamanan di Semenanjung Sinai.

Ehud Barak berharap serangan lintas-perbatasan yang mematikan di Sinai akan berfungsi sebagai “wake-up call” ke Mesir.

Ehud Barak juga mengatakan pasukan keamanannya berhasil “menggagalkan serangan yang dapat melukai banyak orang”.

“Metode serangan militan seperti ini mengharuskan Mesir untuk menegakkan keamanan dan mencegah teror di Sinai,” katanya.

Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyambut baik upaya pasukannya yang berhasil mengalahkan pelaku serangan itu.

Dalam akun Twitternya, Netanyahu mengatakan, siapapun yang menyerang Israel harus sadar bila Israel akan membalas tindakannya.

Bulan April lalu, Perdana Menteri Netanyahu, menilai, Semenanjung Sinai sudah menjelma menjadi wilayah koboi yang tak diatur oleh hukum. Pernyataan itu dilontarkannya setelah muncul serangan roket dari Sinai ke kota wisata Israel, Eilat.

Pasca tragedi berdarah Sinai ini, Mesir sempat menutup pintu perbatasan Rafah dengan Jalur Gaza.

Sebelumnya, orang-orang bersenjata menyerang pos pemeriksaan di perbatasan Mesir-Israel.

Otoritas Israel mengatakan, penyerang bersenjata itu kemudian mencuri dua kendaraan lapis baja dan memaksa melintasi perbatasan.

Sebuah kendaraan lapis baja itu meledak di kawasan Sinai Utara, sementara lainnya dilumpuhkan oleh pesawat angkatan udara Israel.

Sejauh ini belum diketahui siapa pelaku serangan, tetapi televisi pemerintah Mesir menuduh kelompok militan Islam di balik serangan tersebut.

Serangan bersenjata di pos perbatasan dekat Gaza dan Israel terjadi menjelang matahari terbenam, saat para penjaga berhenti bekerja untuk buka puasa.

Para penyerang bersenjata, yang mengenakan topeng dan berpakaian seperti orang-orang Badui, menembak polisi dengan senapan dan granat roket sebelum mencuri kendaraan lapis baja, demikian laporan televisi pemerintah Mesir.

 

Perdana Menteri Hamas yang menguasai wilayah GAZA, Ismail Haniyeh berjabatan tangan dengan Presiden Mesir Muhammed Mursi di Kairo, Mesir, 26 Juli 2012

 

Spekulasi menurut media MENA, pelaku adalah elemen-elemen jihad dari wilayah Jalur Gaza yang dikuasai kelompok Hamas.

Gerakan Perlawanan Islam Hamas, Palestina, membantah mereka terlibat insiden penembakan tentara Mesir di Sinai, perbatasan Mesir-Israel pada hari Minggu (5/8/2012).

Saat ini, wilayah HAMAS dibawah kendali Perdana Menteri Ismail Haniyeh, yang pada tanggal 26 Juli lalu diterima secara khusus oleh Presiden Mesir Muhammed Mursi di Kairo, Mesir.

Beberapa hari sebelum bertemu dengan PM Haniyeh, Presiden Mursi juga secara berturut-turut telah bertemu dengan Presiden Palestina Mahmoud Abbas dan Kepala Biro Politik HAMAS, Khaled Meshaal.

Berkaitan dengan tragedi berdarah di Sinai ini, Hamas berusaha meyakinkan bahwa perbatasan Mesir dan Gaza dilindungi secara ketat.

“Kami menutup terowongan untuk mencegah orang melarikan diri ke Gaza dan kami menempatkan pasukan di sana,” kata seorang pejabat HAMAS.

“Perbatasan antara Mesir dengan Gaza terlindungi. Kami sudah menutup terowongan-terowongan (yang digunakan untuk penyelundupan) untuk mencegah orang-orang melarikan diri (ke Gaza) dan kami menyiagakan aparat keamanan,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Hamas.

“Kami menolak tudingan bahwa Gaza terlibat dalam insiden ini dan kami mengucapkan rasa belasungkawa atas terbunuhnya tentara Mesir,” tegasnya lagi.

Dalam sebuah pernyataan, Hamas mengatakan, “Kami mengecam kejahatan keji ini, di mana tentara Mesir terbunuh dan kami mengucapkan rasa belasungkawa kepada keluarga korban, kepada Pemerintah Mesir, dan rakyat Mesir.”

Saksi-saksi membenarkan bahwa polisi sudah menutup semua terowongan dan mengirim pasukannya ke perbatasan.

 

Presiden Mesir Muhammed Mursi berjabatan tangan dengan Menteri Pertahanan Mesir, Hussein Tantawi, seusai pertemuan darurat pemerintah Mesir pasca tragedi berdarah di Sinai, Minggu (5/8/2012)

 

Berkaitan dengan tragedi ini, Presiden Mursi mendapat “buah yang manis” dari keputusan politik dengan memilih petinggi militer yang kuat mengakar, Hussein Tantawi, untuk menempati pos sebagai Menteri Pertahanan.

Perdana Menteri Mesir yang baru, Hisham Qandil tidak mengutak-atik kalangan militer Mesir dan tetap mempercayai Tantawi sebagai pejabat militer senior yang menjadi Menteri Pertahanan.

Presiden Mursi juga sudah melakukan hal yang benar pasca terjadinya tragedi yang sangat mengerikan ini yaitu menggelar pertemuan darurat dengan pejabat militer dan intelijennya.

Artinya, dalam kapasitas Mursi sebagai seorang PRESIDEN, maka otomatis ia adalah panglima tertinggi militer di Mesir.

Mursi harus memberikan perintah yang jelas dan tegas kepada kalangan militer dan intelijennya.

Kecil kemungkinan tragedi ini dilakukan oleh kelompok militan HAMAS.

Mengapa ?

Rakyat Palestina di Jalur Gaza, khususnya yang menjadi anggota-anggota HAMAS, begitu memuja Mursi sebagai sahabat sangat dekat dan teman seperjuangan yang diharapkan akan banyak menolong Palestina.

Kepada Presiden Mursi, HAMAS menaruh respek dan dalamnya sebuah rasa senasib sepenanggunan.

Mursi, bagi HAMAS, tentulah teman seperjuangan yang harus didukung secara total sepanjang berada di puncak kekuasaan,

Dan Mursi memang sangat menaruh simpati dan iba yang sangat dalam para rakyat Palestina.

Tak lama setelah ia menerima para pimpinan Palestina, Mursi membuat kebijakan baru soal perbatasan Rafah.

(Perbatasan Rafah adalah satu-satunya pintu perbatasan dari Mesir yang menghubungkan langsung ke Jalur Gaza).

Seusai bertemu dengan Presiden Mursi, PM Haniyeh mengatakan bahwa Mesir akan mengeluarkan kebijakan baru terkait pintu perbatasan dengan Jalur Gaza di Rafah dan warga Palestina akan mengalami perubahan prosedur serta waktu perlintasan.

Menurut Haniyeh menjelaskan bahwa pintu perbatasan akan dibuka 12 jam sehari dari pukul 9 padi hingga 9 malam.

Haniyeh juga menjelaskan, jumlah pelintas batas akan naik sampai 1.500 orang perhari, dan orang-orang yang tiba dari luar negeri akan diperbolehkan masuk.

“Enam puluh persen warga Gaza yang dimasukkan dalam daftar hitam Mesir dan dilarang melintas sudah dihapus dari dalam daftar,” imbuh Haniyeh.

 

Presiden Mesir Muhammed Mursi

 

Sama seperti HAMAS, sangat amat mustahil juga Israel ada dibalik serangan ini.

Sebab, rute serangan ini sangat jelas menembus perbatasan Rafah yang menghubungkan sang penyerang ke arah Gaza yang dikuasai HAMAS.

Konyol kalau anggota militer atau intelijen Israel nekat melakukan serangan tersebut.

Jadi sangat kecil kemungkinan Israel yang melakukan, bahkan bisa dikatakan bahwa Israel bukan pelakunya.

Namun tragedi ini membuat Israel menjadi agak diuntungkan.

Dengan adanya tragedi ini, Israel bisa menunjukkan kepada HAMAS dan Mesir terutama, apa saja yang terjadi di sekitar Israel, intelijen dan militer Israel bisa tahu dan seandainya memang ada ancaman datang maka zionis siap menangkal semua bentuk ancaman.

Pernyataan Menteri Pertahanan Ehud Barak bahwa tragedi ini adalah harus dijadikan sebagai “WAKE UP CALL” untuk Presiden Mursi, sesungguhkan ini bisa menjadi semacam ungkapan kekesalan Israel.

Sebab Mursi, tak kunjung mau membuka komunikasi dan tak mau bekerjasama dengan para pemimpin Israel !

Sementara, jika terjadi sesuatu (terutama ancaman KEAMANAN) di Mesir, terutama di perbatasan SINAI yang sangat melekat dengan wilayah ISRAEL, maka yang akan ikut terkorbankan adalah keamanan nasional Israel.

Dan kalau itu sudah menyangkut ancaman keamanan nasional Israel, maka Ehud Barak adalah orang nomor satu yang akan dimarahi Presiden Shimon Peres dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu jika Departemen Pertahanan Israel (yang membawahi Israel Defense Force atau militer Israel) tak bisa mengatasi ancaman keamanan itu.

Jadi, kalau hari Perdana Menteri Netanyahu dan Menteri Pertahanan Ehud Barak terlihat bertolak pinggang di bangkai kendaraan tank yang hangus pada hari Senin (6/8/2012), hal itu bisa diartikan sebagai sebuah pesan kepada Presiden Mursi untuk bekerjasama.

Bekerjasama untuk kepentingan jaminan keamanan dan perdamaian.

Mereka bertolak pinggang seolah-okah hanya untuk sedikit agak “sombong” dalam situasi ini bahwa Mesir kecolongan, tetapi tidak demikian halnya dengan Israel.

Tetapi Presiden Mursi tak perlu berkecil hati sebab ia terpilih sebagai Presiden Mesir dengan sangat demokratis dan begitu membanggakan.

Disitu kelebihan Mursi yang juga harus diakui Israel !

Jadi,  sekarang yang menjadi tugas utama Mesir adalah mencari, mengejar, menangkap, mengadili dan menghukum pelakunya dengan hukuman seberat-beratnya.

Presiden Mursi harus membuktikan kepada rakyat Mesir dan komunitas internasional bahwa ia mampu mengatasi gangguan keamanan yang seperti apapun.

Presiden Mursi harus membuktikan juga bahwa pemerintahannya akan segera memulihkan situasi keamanan di Mesir, khususnya di Sinai.

Tragedi ini bukan “wake up call” untuk Presiden Mursi sebab sudah sejak detik pertama Mursi menjabat sebagai Presiden, ia sudah terlihat sangat bersemangat dan sudah menunjukkan kemampuan menjalankan pemerintahan secara sangat baik.

Tragedi ini secara tak langsung hanya merupakan sebuah tekanan atau “PRESSURE” agar Presiden Mursi tidak terlalu berkeras hati pada Israel yang secara geografis sangat berdekatan juga dengan Mesir.

Memang tak ada orang per orang, kelompok atau pihak manapun yang bisa disebut sebagai pihak yang sengaja menekan Presiden Mursi.

Sebab yang menekan adalah situasi dan kondisi yang memang mengharuskan Mursi membuka diri untuk menjalin kerjasama.

 

 

(MS)

<< kembali